Ada yang memanggilnya kotak amal, ditempat lain juga disebut amal jariyah, tak jarang yang juga mengenalnya dengan nama kencleng. Sebutan itu diberikan dan berbeda dalam pelafalan namun memiliki arti yang sama. Kenceleng sederhananya adalah media yang digunakan untuk menampung sumbangan yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia, aku belum tahu apa ada kebisaan serupa di Negara lain. Bisa dikatakan merata diseluruh masjid tempat ibadah kaum muslimin kencleng itu ada, untuk men-fasilitasi setiap orang yang ingin menyumbang khususnya untuk kegiatan di masjid tersebut.
Dalam agama islam ada banyak jenis shodaqah dan zakat, kalau shadaqah itu biasanya diberikan oleh orang yang ingin membantu atau sekedar berbagi kepada sesama umat muslim, tidak wajib namun sangat di anjurkan melakukannya. Sedangkan zakat itu sesuatu yang wajib untuk disisihkan dari sebagian harta yang dimiliki oleh orang yang memiliki kelebihan rizki, dan ada kriteria orang yang wajib membayar zakat, silahkan lihat dan baca lagi ‘yang wajib membayar zakat’.
Kencleng itu sendiri entah dari mana asal-usulnya, atau mungkin hanya kebiasaan yang umum dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia. Tujuannya untuk membantu operasional masjid, karena jaman sekarang masjid pun butuh penerangan listrik dan air untuk kebutuhan berwudhu dan sebagainya.
Terkait dengan kencleng, kotak yang ada dimasjid itu. Bagiku memiliki arti tersendiri, khususnya kencleng dihari jumat. Kotak itu berjalan kekanan-kekiri hilir mudik dari satu tangan ketangan yang lain, ada yang menitipkan sisa-sisa koin belanjaan kedalamnya, ada pula yang sengaja memberikan sesuatu yang memang di niatkan, ada pula yang tak memasukkan apa-apa. Ia tetap terus saja berjalan dengan tenang sebelum dan selama khatib berkhotbah, hingga baris paling akhir paling ujung di ujung belakang masjid pula.
Ketika kecil dahulu, ayahku bersikap tidak ingin memanjaku sebagaimana orang tua lainnya. Aku jarang mendapat jatah jajan langsung dari ayah, makanya aku biasa berurusan dengan ibu jika ingin mendapat kucuran dana. Itulah sebabnya aku sadar dikemudian, jika urusan jajan dan sebagainya ayah tak pernah dan seolah tak acuh. Namun, ketika hari jumat dulu aku mendapat jatah Rp. 1.000.- yang langsung di anggarkan untuk dibawa kemesjid setiap shalat jumat, padahal ketika itu uang Rp. 500.- saja aku sudah bisa berlagak bos mentraktir teman-temanku sana-sini. Pesan beliau cuma satu niatkan untuk kakek-nenekmu, itu saja. Aku tidak pernah ambil pusing urusan itu, aku jalani tanpa berpikir lanjut kata-kata ayah, uang diterima ditempat lalu aku kemasjid masukkan ke kencleng, beres.
Seiring waktu berjalan, banyak hal yang aku perhatikan dari perkembangan, orang-orang, dan apa itu kencleng jumat sendiri. Bagiku, ia tidak sederhana, bisa dibilang istimewa barangkali, karena disanalah terkadang riya’, sindiran, ketidak-acuhan, atau ke-sembrono-an terjadi. Jika tidak berhati-hati bisa saja riya’ karena merasa sumbangannya paling besar, atau bisa saja menyindir saudara seiman disebelah yang ketika itu tak bisa menyumbang dengan tatapan mencibir atau hati yang berceletuk ‘uang kecil saja tidak punya’, padahal bisa jadi saudara tersebut punya alasan tertentu yang masuk akal lebih dari pemikiran yang tidak masuk akal diatas karena manusia memiliki keterbatasan, atau fenomena tak acuh yang justru sangat sayang dengan uang bahkan untuk urusan masjid tidak mau berbagi. Dan yang paling sembrono adalah fakta bahwa masih ada orang yang tega mencuri isi kotak itu bahkan dibawa dengan kotaknya sekaligus, sungguh sangat menyedihkan mengingat isi dari kotak itu adalah sesuatu yang kecil sangat jarang orang yang menyisihkan titipan yang besar. Jangan pernah sakiti kencleng jumat setidaknya itu lebih baik meski sering kita mengabaikannya.