Kenyataan [lain] Harapan

Ketika kenyataan begitu berbeda dengan harapan, segala kekuatan telah dikerahkan untuk mencapai apa yang diimpikan namun tetap saja ada miss yang merentang. Kepustus-asaan datang menyeruak membayangi, seakan memberi isyarat untuk segera menyerah. Pintu telah tertutup rasanya, hari sudah senja rasanya. Jalan pun buntu.

Harapan itu begitu besar, cita itu begitu tinggi. Toh walaupun banyak yang berkata anda terlalu idealis, tak bisa memandang realitas. Jangan pernah salahkan kami yang mempunyai cita setinggi langit, karena dengan bermimpi kami merasakan ada ruh lain yang menemani hidup yang terasa berat saja, ini. Para cendekia tak mungkin berkata ‘gantunglah cita-citamu setinggi langit’ tanpa sebuah alasan, ada makna yang bisa diambil didalamnya. Ada harapan yang tinggi disana, bermimpilah memiliki masa depan yang cerah karena itu dapat menggerakkan langkahmu diterjalan setapak berduri ini. Keluarlah segera dari keterpurukan, tak usah lagi menyakiti diri dengan pikiran-pikiran yang mendeskriditkan diri sendiri dengan alasan aku lemah, jangan dan jangan pernah ulangi lagi. Meski harapan tak sama dengan kenyataan, jangan pupus. Hanya perlu men-design ulang rencana yang dimiliki.

Dari semua itu persiapkan diri, untuk berani mencoba kembali sekaligus memperbaiki segala celah yang mungkin terlewatkan atau yang memang dulu sengaja dilewatkan, tapi itu bukanlah masalah. Kita memang cenderung lalai dalam urusan apa saja, itu biasa itu wajar karena itu adalah sifat manusia. Namun, jika kita punya niat menjadi seorang yang luar biasa segera saja tinggalkan kebiasaan lalai itu, cukup menjadi masa lalu saja. Mencoba terus dengan berulang-ulang tekhnik pencapaian meski kegagalan lagi lagi datang.

Sedikit demi sedikit mulai berbenah. Mengejar ketertinggalan, tak perlu berpikir terlambat. Mari tatap matahari esok dengan berani. Semangat

Bisikan Lirih

Pernah aku berpikir, untuk melakukan kebaikan, bersikap baik, menunjukkan I’tikad baik. Tujuannya tak lain dan tak bukan, untuk menghargai orang lain, membantu orang lain, memanusiakan manusia lainnya. Aku mencoba untuk terus memberikan sesuatu yang baik saja bagi orang lain, dilengkapi niat yang baik, dan segala sesuatu tentang kebaikan itu. Aku telah mencoba untuk melakukan itu dan akan terus mencoba. Biarlah orang lain tak mampu memandang apa yang telah aku lakukan dan berikan, aku akan tetap melakukan hal itu. Aku yakin dengan sungguh-sungguh bahwa tuhan selalu mempunyai catatan khusus tentang hambanya, dan harapanku aku ingin mengisinya dengan nilai-nilai kebaikan.

Diperjalanan tentu tak mudah aku berdiri pada sebuah komitmen, selalu saja angin berhembus menggoyang pertahanan itu. Mengutak-atik kemampuan ikhlas, merongrong rasa ingin selalu pamrih, serta gebrakan dahsyat kemunafikan. Itu sebuah tidaklah gampang dilalui, test kesungguhan selalu datang bertanya ‘engkau terlalu idealis, kau injak bumi realistislah’.

Dalam semua keadaan yang terkadang mengarahkan aku berlaku curang terasa berat beban itu, ingin rasanya aku mengikuti arus saja, jelas tanpa resiko, jalan tengah atau jalan pintas bukan lagi masalah, labrak sana labrak sini, yang penting aku aman aku menang. Tapi, sebuah bisikan lirih terdengar kemudian serasa ia merintih menangis ‘jangan engkau lakukan itu kawan’ kemudian aku terenyuh, bisikan itu keluar dari dalam dadaku, sebuah bisikan yang selalu datang kepadaku disaat aku dijatuhkan pada dua pilihan, ia selalu berkata ‘jangan’ meski aku dengan prediksiku merasa lebih beruntung dengan tidak mengindahkan larangan itu. Bisikan lirih itu tersenggal-senggal menangis untuk menahanku berlaku curang meski aku akan menjadi pemenang, seolah ia tidak pernah rela tanganku dinodai tindakan kotor. Rintihannya semakin lirih ketika aku mendengar pertimbangan-pertimbangan lain dari teman-temanku, kemudian ia tersudut dan di hitamkan seperti kambing. Aku tahu dia lemah, ia begitu tak berdaya membawa bahasa kedamaian, bahasa kejujuran, kekeluargaan, persaudaraan, kekuatannya telah rapuh.

Biarlah orang lain dengan sikapnya, aku akan dengan sikapku, walaupun korban dari semua itu adalah aku. Itu tidak menjadi sebab yang kemudian membuatku berkata dusta nan khianat. Aku hanya ingin berkata dengan bahasa yang selalu terdengar berbisik syahdu didadaku itu. Jika kejujuran tidak bisa dibela hari ini aku yakin esok hari tidak akan memiliki kedamaian.

Kencleng Jumat

Ada yang memanggilnya kotak amal, ditempat lain juga disebut amal jariyah, tak jarang yang juga mengenalnya dengan nama kencleng. Sebutan itu diberikan dan berbeda dalam pelafalan namun memiliki arti yang sama. Kenceleng sederhananya adalah media yang digunakan untuk menampung sumbangan yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia, aku belum tahu apa ada kebisaan serupa di Negara lain. Bisa dikatakan merata diseluruh masjid tempat ibadah kaum muslimin kencleng itu ada, untuk men-fasilitasi setiap orang yang ingin menyumbang khususnya untuk kegiatan di masjid tersebut.

Dalam agama islam ada banyak jenis shodaqah dan zakat, kalau shadaqah itu biasanya diberikan oleh orang yang ingin membantu atau sekedar berbagi kepada sesama umat muslim, tidak wajib namun sangat di anjurkan melakukannya. Sedangkan zakat itu sesuatu yang wajib untuk disisihkan dari sebagian harta yang dimiliki oleh orang yang memiliki kelebihan rizki, dan ada kriteria orang yang wajib membayar zakat, silahkan lihat dan baca lagi ‘yang wajib membayar zakat’.

Kencleng itu sendiri entah dari mana asal-usulnya, atau mungkin hanya kebiasaan yang umum dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia. Tujuannya untuk membantu operasional masjid, karena jaman sekarang masjid pun butuh penerangan listrik dan air untuk kebutuhan berwudhu dan sebagainya.

Terkait dengan kencleng, kotak yang ada dimasjid itu. Bagiku memiliki arti tersendiri, khususnya kencleng dihari jumat. Kotak itu berjalan kekanan-kekiri hilir mudik dari satu tangan ketangan yang lain, ada yang menitipkan sisa-sisa koin belanjaan kedalamnya, ada pula yang sengaja memberikan sesuatu yang memang di niatkan, ada pula yang tak memasukkan apa-apa. Ia tetap terus saja berjalan dengan tenang sebelum dan selama khatib berkhotbah, hingga baris paling akhir paling ujung di ujung belakang masjid pula.

Ketika kecil dahulu, ayahku bersikap tidak ingin memanjaku sebagaimana orang tua lainnya. Aku jarang mendapat jatah jajan langsung dari ayah, makanya aku biasa berurusan dengan ibu jika ingin mendapat kucuran dana. Itulah sebabnya aku sadar dikemudian, jika urusan jajan dan sebagainya ayah tak pernah dan seolah tak acuh. Namun, ketika hari jumat dulu aku mendapat jatah Rp. 1.000.- yang langsung di anggarkan untuk dibawa kemesjid setiap shalat jumat, padahal ketika itu uang Rp. 500.- saja aku sudah bisa berlagak bos mentraktir teman-temanku sana-sini. Pesan beliau cuma satu niatkan untuk kakek-nenekmu, itu saja. Aku tidak pernah ambil pusing urusan itu, aku jalani tanpa berpikir lanjut kata-kata ayah, uang diterima ditempat lalu aku kemasjid masukkan ke kencleng, beres.

Seiring waktu berjalan, banyak hal yang aku perhatikan dari perkembangan, orang-orang, dan apa itu kencleng jumat sendiri. Bagiku, ia tidak sederhana, bisa dibilang istimewa barangkali, karena disanalah terkadang riya’, sindiran, ketidak-acuhan, atau ke-sembrono-an terjadi. Jika tidak berhati-hati bisa saja riya’ karena merasa sumbangannya paling besar, atau bisa saja menyindir saudara seiman disebelah yang ketika itu tak bisa menyumbang dengan tatapan mencibir atau hati yang berceletuk ‘uang kecil saja tidak punya’, padahal bisa jadi saudara tersebut punya alasan tertentu yang masuk akal lebih dari pemikiran yang tidak masuk akal diatas karena manusia memiliki keterbatasan, atau fenomena tak acuh yang justru sangat sayang dengan uang bahkan untuk urusan masjid tidak mau berbagi. Dan yang paling sembrono adalah fakta bahwa masih ada orang yang tega mencuri isi kotak itu bahkan dibawa dengan kotaknya sekaligus, sungguh sangat menyedihkan mengingat isi dari kotak itu adalah sesuatu yang kecil sangat jarang orang yang menyisihkan titipan yang besar. Jangan pernah sakiti kencleng jumat setidaknya itu lebih baik meski sering kita mengabaikannya.

Janji, janji, janji.

Janji adalah komitmen untuk bertindak dan bersikap. Janji dibutuhkan untuk meng- guidance manusia, dari berbagai ke-alpaan yang sering dilakukannya. Sifat dasar manusia yang rentan berbuat salah dan melakukan bebagai macam ke-khilafan itulah yang memicu kelahiran janji, manusia adalah makhluk yang dimanis, fleksibel. Perubahan kerap terjadi disana-sini, yang terkadang menjadi lupa atau sebagai alasan pembenaran dari setiap tindakan kekanak-kanakan yang tidak bertanggung jawab lainnya.

Janji akan mengajari manusia untuk percaya diri, pantang untuk menyerah, mencoba dahulu sebelum menyatakan tak mampu. Setidaknya itu segelintir ajaran moral yang diberikan oleh janji, untuk lebih optimis tidak putus asa. Janji seperti sebuah ikatan atau pengakuan yang diberikan dengan cara diungkapkan baik kepada diri sendiri atau dengan orang lain, dan hal itu yang akan menunjunjukkan manusia sekaligus pembimbing untuk mencapai suatu harapan yang terkandung didalamnya.

Mengapa manusia butuh untuk mengungkapkan janji, semua itu karena manusia memiliki beberapa unsure; pikiran, perasaan, fisik atau otak, hati, badan. Manusia bukanlah makhluk sederhana, tidak seperti hewan atau binatang yang hanya ada badan serta nafsu, atau malaikat yang mampu berpikir namun tidak memiliki nafsu, tidak. Manusia jelas tidak seperti itu, manusia memiliki rangkaian lebih rumit dan unik, ketika bertindak tiga unsur diatas harus benar-benar terlibat, misalnya : ketika membantu orang lain tidak cukup di ucapan, melainkan dibuktikan dengan tindakan real, dan disertai dengan ke-ikhlasan karena itu faktor hati. Nah, janji dalam kaitannya jelas sangat berhubungan dengan hati, untuk menyatakan kesiapan, kesanggupan kini untuk masa yang akan datang. Dan kemudian, apakah manusia sanggup mewujudkan janjinya kedalam hal yang lebih konkret bermateri.

Janji dapat memberi harapan tidak bagi si pengucap sahaja, melainkan kepada orang lain. Dan karenanya janji yang tak terpenuhi dapat bernilai sebagai sebuah kebohongan, kefasikan, kepicikan yang mendalam, dan dalam bahasa agama; munafik dan khianat. Sesuci apa janji itu sendiri, itu tergantung bagaimana manusia menepatkannya ia akan menjadi mulia atau sia sia.

Jangan Takut, Optimislah

Malam tak selalu mencekam, disana ada bulan yang cahayanya semakin indah dalam keremangan. Siang tak selalu terik membakar, disana selalu ada tempat untuk berteduh. Perjuangan akan selalu pahit, tapi entah mengapa masih menyisipkan kebagiaan disetiap lorong. Rasakan dan ikuti alur itu, hal tersebut akan memberikan sebuah pengalaman yang sering membuat diri tersenyum dan takjub dengan sendirinya.
Seberapa besar ketakutan, kerisauan, kegundahan, kegalauan, berangsur-angsur akan terbayar habis. Kesemuanya silih berganti menjadi indah dijalani dengan semangat menggapai sebuah harap, keinginan yang luhur tak akan terkalahkan. Dalam berbagai polemik dipanggung sandiwara ini, selalu ada solusi yang akan membantu memberi sebuah jawaban. Waktu; satu hal yang menjadi rentang antara jarak yang harus dilalui dengan tindakan untuk menuju kearah tujuan, ketika itu semua potensi dikerahkan, keringat perjuangan dipaksa keluar untuk mengarungi lautan waktu yang terbatas, semua hal adalah kompetisi yang tentunya setiap tindakan perlu diperhitungkan, untuk mencapai titik paling optimal dalam sebuah pencapaian. Sadarlah, bahwa persaingan semakin tak terbendung, semua ingin menjadi yang terbaik, senyampang ketertinggalan masih bisa dikejar, susul segera. Jangan berpikir terlalu lama, itu akan melebarkan jarak susul.

Mari berpikir optimis, ingat kembali pepatah’banyak jalan menuju roma’, ‘belajar tak mengenal usia’, ‘tidak ada kata terlambat’. Terlalu lama bersemayam dalam penyesalan tak akan pernah merubah apa-apa, justru itu adalah beban atau rintangan tak kasat mata yang menjadi penghalang dalam mencapai sebuah harapan. Tuhan memberi kesempatan yang sama, Dia tidak pernah membedakan satu dan lainnya. Setiap orang berhak menjadi bahagia, kaya, dan memiliki derajat yang baik dalam ke-imanan. Tuhan telah memberi anugrah yang teramat besar nilainya. Kemampuan berpikir, bergerak, berbahasa, ber-ekpresi.
Aral rintangan akan menjadi alat yang akan terus meng-asah potensi dalam diri manusia, jangan jadikan itu momok menakutkan untuk melangkah. Kesalahan adalah pelajaran jika disikapi dengan bijak, ia bukan mimpi buruk. Atau alasan yang membuat kita takut mencoba untuk kedua kalinya. Tanamkan keyakinan bahwa kita pasti bisa menjadi apa yang kita inginkan, bermimpilah kelak kejayaan akan berpihak kepada kita. Karena kita adalah pejuang yang rela mati untuk sebuah cita-cita.
Apa engkau telah lupa kawan, dahulu ketika kita masih kecil ada banyak hal yang ingin kita miliki. Menjadi dokter, polisi, atau astronaut. Cita-cita itu begitu mulia dan bahkan sangat indah. Mungkin hari ini kita berpikir itu sudah tidak relevan, kita merasa itu seakan tidak mungkin digapai. Tak perlu berkecil hati, saat ini mari kita susun lagi rencana menggapai cita, karena kita sering lupa dan tidak fokus pada tujuan, mari dengan segenap doa kita bertekad untuk menggapai sebuah kejayaan itu, kejayaan yang pernah kita impikan dimasa lalu di masa kanak-kanak kita. Hilangkan segera noda pesimistis dalam hati, jiwa dan pikiran kita. Kita berhak menjadi apa yang kita impikan. Mari kita kumpulkan lagi kemampuan kita, asah potensi agar lebih mantap, berterimakasihlah kepada orang-orang yang telah banyak mendukungmu, orang-orang yang dengan sepenuh hati menyayangi dan mencintaimu, jalin hubungan baik dengan siapa saja, berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Karena hal itu akan memberikan kekuatan positif sekaligus membantu kita menggapai apa yang menjadi harapan.

Dari Sepotong Ikan Kering Itu Aku Belajar Sebuah Makna Kesederhanaan…

Di sebuah tempat yang ramai atau orang sebut tempat itu sebagai kota aku tinggal. Meraih sebuah cita untuk hari esok, berusaha belajar dengan segala hal, mulai dari hal yang sederhana hingga masalah kompleks lainnya. Telah cukup lama aku pergi meninggalkan kampung halamanku jauh ditempat sana, dan menyimpan kerinduan akan aroma tanah itu. semua aku lakukan dan semakin hari aku semakin sadar akan arti sebuah usaha meraih asa yang sudah dari dulu aku harapkan.

Di tempat ini, membentangkan jarak yang jauh. Antara aku dan kampung halaman itu, kampung yang penuh kenangan dan nostalgia indah bak elegi cinta para pemuda. Aku meninggalkan untuk sementara keluargaku, Ayahku, ibuku, adikku, beserta sanak saudara lainnya. Rasa ingin bertemu terkadang menyaru menjadi sebuah kerinduan. namun, apadaya jarak itu sungguh jauh, cukup hubungan emosional saja yang bisa mengartikan kita sebagai seorang yang bersaudara.

Dalam sebuah renungan aku terkadang terharu dengan keadaan ini. Jarak memang bisa memisahkan raga seseorang. Namun, itu tak akan dengan mudah menghapus hubungan bathin meski sejauh apapun jarak itu. Suatu hari ayahku, yang kemudian semakin hari aku kenal sebenarnya ia sangat menyayangiku, mengirimkan sebuah paket yang isinya sederhana; ikan asin kering, dan abon ikan laut. Paket itu membuatku tertengun, sejenak aku dibuat sadar betapa itu bukti cinta seorang ayah akan anaknya, meski jauh ia tidak pernah lupa. Ikan itu seolah membangkitkan ingatan tentang betapa sederhananya kehidupan kami sekeluarga, kita hanya sebuah keluarga pelaut kecil dengan kapal kecil, tanpa alat navigasi otomatis atau mesin bertenaga ribuan kuda. Aku sadar itu, betapa besar harapan ayah dan ibu, meski dengan penghasilan seadanya mereka berusaha dengan baik memenuhi kebutuhannku selama belajar ditempat ini, tempat yang segala hal ada harganya bukan seperti dikampungku yang tidak menggambarkan materi sebagai dewa yang seolah dapat membeli apapun. Ayah ibu terimakasih masih mengingatku dan selalu menyisihkan upah pekerjaan ayah lebih banyak kepadaku daripada yang ayah dan ibu gunakan. Ibu rela berlama-lama berdoa memohon kepada Allah agar selalu melindungi aku disini, dan ayah selalu tidak keberatan memberiku masukan-masukan motivasi, betapa berjasanya kalian berdua, dan adikku yang selalu mengingatku sebagai seorang kakak, meski aku belum bisa berbuat banyak untuk membahagiakan kalian, justru terkadang aku yang rela membuat kalian semua menitikkan air mata kesedihan karena sikapku terkadang mengecewakan kalian, maafkan aku atas semua kesalahan. Dan dari ikan asin itu pun aku mulai belajar arti sebuah kesederhanaan, tidak berlebihan menghabiskan yang aku punya, membelanjakan uang dengan bijaksana, karena disetiap rupiah itu ada keringat orang-orang tercintaku terselip, bercampur dengan segala harapan ketika ikan tak lagi mudah ditangkap karena musim semakin tak menentu. Aku sadar aku hanyalah anak kampung yang sederhana, tak perlu makanan yang terlalu mahal atau pakaian mewah.

Yang paling penting sekarang adalah sejauh apakah kompetensi dan kreatifitasku untuk selalu bersaing memperebutkan peluang, akan kutunjukkan bahwa meski anak nelayan harus mampu bersaing, karena setiap orang berhak untuk berjaya.

Dimana Hati Itu…

Hanya amarah yang tampak diwajah, rasa benci yang besar terlihat jelas disetiap tatapan itu. padahal lebih baik jika kita semua saling menjaga dan mengasihi. Tak perlu ada tepukan sebelah tangan seperti yang lalu, atau sikap buang muka dengan acuh sejuta keangkuhan. Jika setiap hal  adalah kepahitan, hanya hitam nan buruk yang akan tampak tak ada senyum kebahagiaan atau tawa. Semuanya akan mencekam dalam kesepian yang panjang membentang tanpa ujung, seakan malam tanpa bulan itu tak akan pernah berakhir. Gelap saja dan penuh ketidak pastian.

Hidup terlalu sia-sia jika hanya untuk digunakan memupuk seribu permusuhan, menanam bibit kebencian, memelihara setiap detil hakikat keangkuhan. Dan ketika itupun hati tak akan ada gunanya lagi, ia tidak mampu memberikan simpati kepada setiap kesedihan yang ditanggung orang lain, ia hanya akan mengeluarkan saripati keangkuhan berupa apatisme tak berujung. Itupun akan mencampakkan setiap jiwa dalam keasingan, tak ada seorangpun yang nyaman didekatnya. Keangkuhan itu telah membelenggu kelembutan dan ketulusan dengan segala kemurnian kasih sayang dari hati. ia tidak dapat mengucapkan salam perdamaian ataupun kesejahteraan. Lidahnya pahit nan kelu, penuh perhitungan dan menganggap kebaikan adalah omong kosong yang tidak akan mendatangkan keuntungan. Kebaikan telah dianggap sesuatu yang konyol dan kekanak-kanankan. Hati telah benar tidak bisa berbuat apa-apa, telah hilang fungsi, adanya begitu disiakan, terbelenggu dalam egoisme buta yang bertuan kesombongan itu.

Tanamlah kebaikan, perangi dan lepaskan jerat-jerat keangkuhan yang masih ada. Biarkan hidup ini menjadi lebih berwarna, indah dan penuh canda tawa. Damai sejahtera ada disetiap waktu, usia dan kesempatan yang dimiliki. Jika hati bekerja dengan baik, ia akan menciptakan perilaku terpuji, menyenangkan dan membuat semua orang menjadi nyaman. Semua orang akan berterimkasih pada jiwa yang memiliki hati yang bersih, karena dengan keberadaannya semua menjadi bahagia.

Sendiri untuk berfikir…

Kesendirian adalah tempat terbaik untuk berfikir, kembali men-introspeksi diri atas apa yang telah dilakukan. Dalam hening renungilah kembali apa yang telah terjadi, apa yang diberi atau apa yang didapat, siapa yang terluka atau siapa yang dilukai selama ini. Disaat tertentu dibutuhkan waktu untuk itu, agar kesibukan tak membuat lupa dengan siapa diri ini sebenarnya. Adakah tetap atau telah berubah, dibutuhkan waktu untuk menyadarinya, supaya jika perubahan itu ada menuju kebaikan maka bisa ditambah intesitasnya dan jika berubah itu menuju kepada keburukan maka dapat segera disadari bahwa itu salah dan segera dapat kembali kepada siapa sebenarnya diri ini.

Manusia dengan hati yang mereka miliki, dapat saja berubah dalam waktu yang singkat dari satu pendirian ke pendirian yang lain. Unpredictable moment bisa kapan saja dan dimana saja, semua dapat berubah dari niat baik menjadi niat buruk hanya dalam waktu seper-sekian detik. Begitulah, kesadaran adalah minder hanya sekedar pengingat namun jika sang pemilik hati tidak ada keinginan untuk sadar maka ia ada hanya sekedar pengingat saja tak ada fungsi lebih.

Tentu setiap orang mengharap akan kebaikan dalam setiap pekerjaan, ikutilah apa yang ada dalam hati. Ia selalu menunjukkan jalan yang benar, namun terkadang manusialah yang terlalu sombong dengan dirinya, terlalu mengabaikan kebenaran.

Jangan Berteman Sepi…

Kesendirian itu tidak menyenangkan tentunya, tak tahu kepada siapa harus berbagi, dapat membuat tak berarti apa yang telah dimiliki. Aku tertarik untuk mengangkat tema ini, karena jujur aku katakan selama ini terkadang aku bingung mengapa kalau aku pesan makanan di warung hanya satu porsi, ketika membeli minuman cuma satu kaleng, ketika membeli tiket aku hanya membeli untukku saja. Selama ini aku baru sadar bahwa aku seorang solitaire semua aku lakukan sendiri tanpa siapa-siapa, memang ada yang menganggap aku mandiri, tidak tergantung kepada orang lain lagi. Tapi, justru aku terkadang ingin tertawa sendiri jika ingat sebernarya aku orang yang kesepian tidak tahu harus kepada siapa berbagi sepotong makanan ini apalagi secuil harapan dan perasaan cukup menggelitik jika aku lihat diriku sebagai orang lain.

Kemampuan memahami dan menerima orang lain apa adanya ternyata juga mengambil pengaruh besar dalam pergaulan, tidak cukup kelebihannya yang harus aku terima, namun kekurangannya harus aku maklumi jika ingin hidup berdampingan dengannya. Karena, ia diciptakan satu paket lengkap dengan kelebihan dan kelemahan, terkadang disinilah yang menjadi permasalahanku. Tidak mungkin di dunia ini aku bertemu dengan orang baik saja, orang alim saja, atau orang pintar saja dan berteman dengan mereka. Tapi justru aku akan bertemu dengan orang yang bermacam-macam dari sikap dan kebiasaan mereka dan aku harus maklum, dan berusaha dapat menerima mereka apa adanya. Justru, disitulah aku harus member pengaruh baik jika ada seorang yang masih dirasa menyimpang dari kewajaran bukan kemudian membiarkannya dan mencampakkannya. Itu tidak egois dan tidak terpuji, meninggalkan hal yang masih bisa diperbaiki dan membuangnya begitu saja.

Dari itu aku sadar, bahwa sejatinya tak ada dan tidak akan pernah ada manusia yang sempurna. Memiliki sejuta kelebihan, manusia hanyalah manusia yang memiliki kelemahan dibalik harapan-harapan. Dan dunia tidak sunyi, sepi, senyap dengan keberadaan mereka, akan ku jadikan setiap orang sebagai teman, karena merekalah yang dapat menghadirkan senyum kebahagiaan di dunia ini, mereka yang membuat dunia tidak lagi sepi, setiap hal menjadi lebih berwarna dan cantik.

Mengapa Aku Berbeda…

Matahari telah tinggi, hari beranjak siang semakin benderang. Tapi  aku masih disini tak beranjak dari angan-angan, terbuai dalam mimpi yang melenakan. Setiap orang telah beranjak pergi mengejar impian, mereka fokus dengan cita-cita mereka, seakan tak ada kata lelah yang membuat mereka terhenti mengejar impian.

Aku juga ingin seperti mereka, memiliki perjuangan, memiliki impian yang membuat mereka begitu bersemangat menghadapi hidup sehingga tidak pernah terjebak disudut buntu. Sudut yang mampu menghilangkan pengharapanku seperti saat ini. Terlalu banyak kesempatan yang terbuang, itu baru terasa saat ini, ketika semua orang telah lebih jauh melangkah, ketika semua orang mendapatkan hasil yang baik atas segala usaha mereka, sedangkan aku disini masih tetap tak bergeming seakan hilang alasan untuk hidup. Motivasi serasa telah lenyap dari diriku bahkan hanya untuk sekedar bertahan hidup, semua hal terasa hambar tanpa rasa membosankan.

Terkadang aku berfikir mengapa aku tidak sama dengan yang lainnya, padahal aku juga manusia yang ingin dianggap ada. Bukankah setiap orang memiliki kewajiban dan hak yang sama, satu dan lainnya tidak berbeda, tapi entah mengapa aku masih merasa terlalu banyak ketimpangan dan perbedaan disini. Aku juga ingin hidup tentram, bahagia, dan berkecukupan seperti kebanyakan orang. Semakin aku merenunginya semakin berat beban yang terasa, dan aku ingin melupakan segala macam beban itu terlalu lelah aku dibuatnya selama ini.

Saat aku masih kanak-kanak dahulu didalam diriku terdapat optimisme yang tinggi, sejuta harapan ada dalam hidupku dan semua itu serasa tidak mustahil untuk segera kugapai. Tapi, hingga kini diusiaku yang beranjak kearah dewasa aku semakin merasakan ketidak-mungkinan yang begitu besar, menggeser semua keinginan tergantikan dengan pesimisme yang kian hari membesar mengalahkan setiap harapan mengubur semua impian itu hidup-hidup tanpa ampun. Aku semakin takut dengan apa yang ada di dunia ini, ketidak pastian semakin besar aku rasakan, tak ada jaminan untuk sebuah kebahagiaan itu hanya sebuah kemungkinan kecil, sedang jaminan untuk keterpurukan semakin besar, benar-benar kontras.

Jika harapan itu masih ada, tunjukkanlah meski hanya sekedar bayang atau kabar keberadaannya dahulu. Agar itu menjadi semangatku untuk mengejar kembali impian yang hampir terkubur ini, jangan pernah biarkan jiwa ini mati sia-sia, datang kebumi tanpa meninggalkan jasa atau semacam karya. Aku juga ingin dikenang, dan hidup ini juga ingin menjadi mamfaat bagi sesama. Tunjukkan segera jika harapan itu benar-benar masih ada, aku khawatir jika ia tak datang segera.